Sabtu, 31 Desember 2011

Sekolah Bertaraf Internasional : Sebuah Epistemology

Sekolah Bertaraf Internasional : Sebuah Epistemology
Oleh Marsigit

Direfleksi oleh
RIFAI (11709251010)
P Mat A PPs UNY

Konsep SBI adalah ideal, dapat terwujud bila ditunjang sekian banyak prasarat yang harus dipenuhi. Kenyataannya saat ketuk palu SBI dijalankan prasarat-prasarat tersebut masih "dipaksakan" untuk dikatakan siap. Tentunya ini berlaku untuk sekolah RSBI yang segera bermetamorfose ke SBI berdasar target waktu (bukan target kompetensi). Jika ini dilanjutkan maka yang terjadi adalah menyimpangnya tujuan/target SBI. Semula SBI berangan-angan untuk menelurkan outcome lulusan siswa yang benar-benar berkembang lebih maju dibanding siswa lain di sekolah reguler non SBI sebagaimana dikatakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh "Jika semua anak-anak pintar harus bersekolah di sekolah yang reguler, maka dikhawatirkan tidak ada kesempatan untuk berkembang". Namun mengingat kesiapan beberapa RSBI yang dipandang kurang siap maka tujuan/target SBI akan terdegradasi ke Tujuan/target reuler. Tujuan mulia SBI hanya dapat terwujud jika prasarat-prasarat SBI betul-betul dipenuhi. Harapan besar dititipkan kepada pemangku kebijakan penentuan strata SBI semoga vonis SBI bagi sekolah yang dinyatakan lolos benar-benar atas pertimbangan kompetensi sekolah tersebut untuk mampu menampung dan mengebangkan kemampuan siswa-siswanya.

Memahami Hakekat Macam-macam Sumber Belajar untuk Menunjang PBM pada Sekolah Bertaraf Internasional

 
Oleh :  Rifai, Mahasiswa Pendidikan Matematika Pasca Sarjana UNY


Perintah pertama yang diterima oleh Muhammad melalui malaikat Jibril diawal kenabiannya adalah “iqra’ ” yang artinya “bacalah” (QS Al-Alaq : 1). Sangat dalam makna perintah Allah kepada calon nabi panutan umat muslim itu, oleh karenanya tidak cukup kita menterjemahkannya secara dangkal. Diperlukan ekspansi rasio untuk dapat menyelami lebih dalam mengenai perintah itu. Secara harafiah “bacalah” berarti membaca tulisan, simbol, gambar, diagram, atau bahas tulis lain yang dapat divisualkan. Dalam arti luas, membaca kita artikan sebagai usaha untuk memahami setiap fenomena yang kita hadapi. Konsekuensinya, “bacalah” dapat kita artikan sebagai aktivitas yang simultan misalnya : membaca gejala alam, membaca manfaat benda-benda di lingkungan sekitar, membaca perilaku binatang, membaca pikiran lawan bicara, membaca ekspresi wajah seseorang, membaca makna gerak tubuh, membaca karakter siswa berdasar usia, membaca karakter siswa berdasar potensi, membaca apa-apa yang diperlukan siswa kerkebutuhan khusus, dan lain-lain. Selanjutnya segala sesuatu yang kita baca disebut sumber bacaan. Sumber bacaan yang kita baca akan menginspirasi kita untuk belajar, yang dalam ranah formalnya berupa kegiatan pembelajaran dimana kegiatan ini bernaung dibawah bendera pendidikan.


Undang-undang sistem pendidikan nasional (UU no 20 tahun 2003) pasal 50 ayat 3 yang menyatakan pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional berimplikasi kepada kebijakan pemerintah berupa dibentuknya Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Dibentuknya RSBI  selain dengan dasar untuk memberikan layanan khusus kepada anak-anak pintar, dibukanya RSBI juga sebagai upaya mendorong terciptanya central of excellent di seluruh jenjang pendidikan (Kompas, Jumat 30/12/2011). Menilik tujuan yang demikian maka pembelajaran di sekolah RSBI haruslah mengakomodasi kebutuhan tersebut, diantaranya tersedianya sumber belajar yang memadai.


Sumber belajar yang tersedia hendaknya yang mampu menginspirasi siswa dalam berimprovisasi memilih sikap menuju dewasa secara alamiah. Diibaratkan siswa adalah benih, maka sekolah adalah tempat persemaian, guru adalah patok penopang (lanjaran-Bahasa Jawa) yang merawat dan membimbing siswa, sedangkan sumber belajar adalah unsur hara yang menopang kelangsungan hidup si benih untuk tumbuh dewasa. Oleh karena itu sesuatu dapat disebut sumber belajar apabila dapat digunakan oleh siswa sebagai pemantik munculnya proses berfikir. Imam Suryo Prayogo (2008:2-3) berpendapat, jika pemikiran manusia dapat dipelajari, maka ada empat golongan pemikiran manusia, yaitu :

1.      pemikiran pseudo ilmiah,

2.      pemikiran awam,

3.      pemikiran ilmiah, dan

4.      pemikiran fiosofis.

Relevan dengan kajian mengenai sumber belajar di sekolah, pemikiran yang diadaptasi adalah pemikiran ilmiah, yaitu pemikiran yang mendasarkan pada metode-metode, tata pikir yang didukung penggunaan hipotesis untuk menguji kebenaran konsep teori atau pemikiran dalam dunia empiris proses keilmuan.


Kriteria yang dapat dijadikan acuan dalam memilih sumber belajar diantaranya :

1.      mudah didapat : tersedia di lingkungan sekitar kita, terjangkau harganya, tidak memerlukan prosedur yang rumit untuk mendapatkannya;

2.      fleksibel jika digunakan untuk mewujudkan berbagai tujuan pembelajaran;

3.      up gradeable dalam mengikuti perkembangan pengetahuan;

4.      membangkitkan minat belajar siswa;

5.      menjaga reliabilitas motivasi belajar siswa, terhindar dari frustasi.



Apabila kriteria sebagaimana disebutkan di atas dapat dipenuhi maka sumber belajar itu dapat memenuhi fungsinya, yaitu :

1.      meningkatkan produktivitas pembelajaran;

2.      menyediakan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk melakukan eksplorasi pengetahuan;

3.      menyediakan kesempatan teradinya loncatan pembelajaran;

4.      mendorong siswa untuk tertarik mengetahui isinya;

5.      membimbing siswa menemukan konsep berdasar pola sistematis.


Menyadari pentingnya dukungan sumber belajar yang memadai, maka seluruh komponen pendidikan harus berani kerja keras untuk mampu mewujudkan kriteria yang telah ditentukan.

Minggu, 11 Desember 2011

FILSAFAT DALAM PERSPEKTIF LINTAS KEHIDUPAN

FILSAFAT DALAM PERSPEKTIF LINTAS KEHIDUPAN



Berfilsafat adalah kegiatan refleksi diri terhadap pikiran kita. Karena pikiran kita selalu tersekat oleh dua pilihan yaitu peduli atau mengabaikan dimendi ruang dan waktu, maka pikiran-pikiran yang muncul akan bergerak berpindah-pindah secara acak dari peduli dimensi ruang dan waktu dan mengabaikan dimensi ruang dan waktu.



Akan halnya dengan dinamisasi duniawi yang bersifat praktis, peran filsafat menduduki peran sentral. Filsafat akan memberi dasar pemikiran untuk bertindak bijak dalam upaya menunaikan tanggung jawab seseorang saat itu. Filafat mengarahkan seseorang untuk dapat berperilaku sebagaimana dicontohkan oleh bunga teratai nan indah di tengah kolam. Agar keindahan bunganya dapat dinikmati oleh siapa saja yang ada di sekitarnya maka ia harus selalu menyesuaikan diri terhadap lingkungannya.



Saat air surut (atau bahkan habis) teratai akan berada di dasarkolam. Ia tidak bersikukuh untuk tetap di atas karena ia sadar bahwa tidaklah akan ada sumer penghidupan baginya di atas kolam, meskipun disisi lain ia mengabaikan dimensi kenyamanan para penikmat indahnya bunga teratai karena mereka harus bersusah payah melongok ke dalam kolam agar bisa melihat bunga teratai.



Saat air kolam penuh...

Teratai tak akan bersikukuh menancapkan akarnya di dalam kolam, tetapi ia akan mengikuti topangan air “si sumber kehidupan” menuju permukaan kolam karena teratai peduli pada dimensi ruang dan waktu si penikmat.  Ia sadar bahwa dengan demikian si penikmat akan dimanjakan dengan tontonan estetik yang dengan mudah didapatkan. Sebaliknya, ia sadar bahwa jika ia mengabaikan dimensi ruang dan waktu peikmat dan ia tetap di dasar kolam maka ia akan tenggelam, tidak tampak keindahannya. Berarti ia mengabaikan dimensi ruang dan waktu dirinya sendiri  bahwa ia adalah objek untuk dinikmati.



Aku Rifai, teratai kehidupan...

Air kehidupanku adalah keluargaku, saudara-saudaraku, orang tuaku, tetanggaku, teman-teman guru di sekolahku, teman-teman karyawan di sekolahku, siswa-siswaku, oragn tua siswa-siswaku, teman-teman kuliahku, dosen-dosenku, dan (tidak terlupakan) logikaku.



Disetiap saat air kehidupanku senantiasa memposisikanku pada dimensi ruang dan waktu yang niscaya satu.



Sebagai kepala keluarga aku harus memiliki kharisma pemimpin, pengayom, menejer, dan sekaligus sahabat bagi anak dan istriku. Disaat mereka butuh tuntunan, aku harus siap menjadi pandom, disaat mereka resah, gundah hati, aku harus siap menjadi penentram, disaat mereka hampir kehilangan arah kehidupan, aku harus siap menjadi rel yang meluruskan arah mereka, namun aku juga manusia, sama seperti mereka. Maka aku juga harus berkedudukan sejajar dengan mereka, sebagai sahabat, kerabat, dan teman karib yang bersedia memikul segala kewajiban bersama-sama agar terasa ringan.



Sebagai bagian dari keluargaku aku harus berfikir makro untuk memposisikan diri. Sebagai anak dari orang tua dan mertuaku, aku harus berbakti kepada mereka. Sebagai adik dari kakakku dan kakak dari adikku aku harus bisa mengisi ruang kehidupan diantara kewajiban yang belum tertunaikan.



Sebagai bagian dari masyarakat sedusunku aku harus mampu “melayani” mereka. Sesekali aku diminta menjadi ‘panata cara’ hajatan, saya siap. Kadang aku diminta menerima ‘pasrah manten’ –yang notabene sesanggane pinisepuh-, aku harus mampu menjadi orang yang dituakan. Tidak jarang pula aku diminta remaja masjid untuk memandu acara anak-anak TPA, Insaallah siap dan ikhlas melaksanakan, bahkan diminta ikut jalan kaki dalam rangka lomba takbir menyambut Idul Adha, aku  siap bergabung.



Sebagai bagian dari teman sejawat di SMP N 3 Banguntapan aku harus bisa saling asah, asih, dan asuh. Saling asah kemampuan pedagogik dalam koridor meningkatkan kualitas pembelajaran, saling asih untuk mempererat tali silaturahmi, dan saling asuh untuk menemukan kesempurnaan pemenuhan kebutuhan aspek kehidupan di sekolah.



Sebagai guru dari siswa-siswaku, aku harus bisa menjadi teladan untuk berbuat sesuai norma, menjadi pelita bagi siswaku yang berda dalam kegelapan pengetahuan, sebagai orang tua kedua setelah orang tua kandung mereka.



Sebagai guru aku punya kolega para orang tua siswa. Kepada mereka aku mengkomunikasikan perkembangan belajar putra-putrinya. Aku berposisi setara dengan mereka, sama-sama berupaya memantau, dan menindaklanjuti perkembangan siswa-siswaku.



Sebagai mahasiswa program studi Pendidikan Matematematika pasca sarjana aku menanggung beban moral terhadap teman-teman sejawatku. Aku dipandang memiliki ilmu yang ‘sedikit’ lebih dibandingkan teman-teman (mungkin ini pandangan sepihak diriku berdasar pengamatan interaksi sehari-hari di sekolah). Akibatnya, aku harus senantiasa meng-up date pengetahuanku untuk memenuhi kebutuhan informasi teman-temanku.



Sebagai mahasiswa dari para dosenku, aku harus mampu memenuhi kewajiban berupa pemenuhan terhadap instruksi yang diberikan. Tetapi aku merasa alangkah lemahnya diriku, tenagaku tidaklah cukup kuat untuk menjalani semua itu. Kebugaranku tidaklah cukup fit untuk mendukung rencana-rencanaku, kecepatan logikaku tidaklah secepat teman-temanku untuk meniti jejak langkah para dosenku dalam menggapai ilmu.



Akhirnya logikaku yang memberi penentu dengan tanpa meninggalkan rasaku. Logika menuntunku untuk menemukan kebenaran hakiki dari apa yang ada dihadapanku. Rasa menuntunku memilah permasalahan untuk kemudian membuat strata dan prioritas dalam upaya menemukan keputusan bijak menyikapi keadaan. Jadi sebenar-benar sikap bijaksana adalah sikap yang diambil dengan mempertimbangkan kebenaran logika tanpa meninggalkan pertimbangan unsur rasa. Langkah ini dapat ditempuh melalui refleksi terhadap diriku : kemampuanku, dan kelemahanku.

Kamis, 24 November 2011

Elegi Meratapi SAng Ilmuwan Plagiat dan guru Pemalsu PAK

Elegi Meratapi SAng Ilmuwan Plagiat dan guru Pemalsu PAK
Oleh : Marsigit

Direfleksi oleh :
RIFAI, P Mat A 11709251010

Eksistensi seseorang akan diketahui orang lain jika :
1. Ia benar-benar tampak dimata orang lain
2. Ada gejala yang yang dapat diamati yang menujukkan bahwa dia ada
3. Ada produk yang dihasilkan olehnya sehingga produk itu bisa dinikmati orang lain
artinya, untuk menampakkan diri di hadapan orang lain sesorang harus terlihat dulu, baik secara fisik maupun dengan bukti otentik. Dengan begitu orang lain akan menempatkan dirinya di tempat tertentu sesuai ruang yang tersedia pada dirinya. Selanjutnya penempatan itu bersifat kokoh atau tidak bergantung dari efek-efek lanjutan dari awal penampakannya.

Contoh : Seorang guru dinilai orang lain sebagai guru apabila dia memiliki ijazah keguruan, selanjutnya predikat guru itu apakah benar-benar bisa disandangnya sangat bergantung dari efek lanjutan yang ia tempilkan sebagai seorang guru. Jika ia mampu menunjukkan perilaku (normatif) sebagai guru maka akan kokohlah kedudukan ia menyandang predikat 'guru'.

Kemudian dari mana penilaian (normatif) bagi seorang guru?
Jawabannya ada 2 hal, yaitu : (1) dari gejala-gejala (dalam bentuk  aktivitas) yang ia lakukan sehari-hari. Jika ia mampu berkativitas yang mencerminkan perilaku seorang guru, maka dikatakan ia benar-benar guru. (2) dari produk yang dihasilkan. Jika ia mampu menelorkan produk yang relevan dengan disiplin keguruan dan produk itu dapat dinikmati khalayak banyak, maka dikatakan ia layak menyandang predikat sebagai 'guru'.
Jadi sebenar-benar eksistensi seseorang diakui oleh orang lain jika orang itu ADA, ia MENGADAkan sesuatu yang relevan, dan ia merupakan PENGADA dari suatu produk yang bermanfaat.

Mempertemukan Logika dan Pengalaman untuk membangun Filsafat

Mempertemukan Logika dan Pengalaman untuk membangun  Filsafat

Direfleksi oleh RIFAI, P MAT  Kelas A No 11709251010



Kajian filsafat mencakup hal-hal dasar yang esensial. Mengenai asal-usul ditemukannya obyek filasafat tidaklah dipermasalahkan. Semua sumber berstatus syah dan ‘legal’ dari kacamata filsafat.



Setiap manusia menjalani kehidupannya melalui proses pengamatan dan analisa. Pengamatan yang seksama dengan dibarengi analisa yang teliti akan memunculkan pengalaman hidup yang akan ia kenang sepanjang hidupnya. Analisa terhadap pengamatan dilakukan oleh individu menggunakan logika. Logika akan menuntun individu untuk melakukan penilaian terhadap apa yang ditemuinya. Jika dengan logika itu ia mendapatkan kesan, maka kesan itu akan menjadi pengalaman bagi dirinya. Dengan senantiasa mempertimbangkan hal-hal mendasar, harapannya output dari berlogika yang ia lakukan menghasilkan penilaian yang bijaksana yang memuat manfaat bagi dirinya. Dengan demikian akan ditemukan olehnya pengalaman hidup. Sebaliknya setelah pengalaman hidup berhasil diraihnya, selanjutnya pengalaman itu dapat dijadikan cermin untuk merefleksi seberapa kadar kebenaran yang diyakini itu dibanding kebenaran yang hakiki. Hal itu bisa dilakukan jika ia mampu berfilsafat.



Hubungan yang resiprocal ini menyandingkan kedudukan yang serasi antara logika dan pengalaman dalam upaya membangun filsafat.

Minggu, 23 Oktober 2011

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 25: Kompromi antar Pure Mathematics dgn School Mathemastics (Jawaban untuk Prof Sutarto Bgn Keempat)


Oleh Marsigit


Direfleksi oleh :

Rifai  11709251010

P Mat Kelas A PPs UNY 2011



Quasi-Mathematics, jembatan yang melintang di atas jurang kesenjangan pemahaman mengenai matematika. Melalui jembatan itu toleransi dan pengakuan keterpisahan masing-masing pihak akan mengalir dengan bebas. Aliran yang tidak lagi memperhitungkan proporsi/timbangan muatan untuk masing-masing pihak untuk menonjolkan diri sendiri.
Akan tetapi secara jujur saya belum bisa menemukan gambaran kongkret mengenai apa itu Quasi-Mathematics?, bagaimana manifestasinya dalam matematika terapan? dan aktivitas apa saja yang masuk dalam ranah Quasi-Mathematics? Mohon kiranya Bapak berkenan memberi paparan lebih detail. Terima kasih.

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 24: Solusi 3+4=7 kontradiktif? (Jawaban utk Prof Sutarto Bgn Ketiga)


Oleh Marsigit


Direfleksi oleh :

Rifai  11709251010

P Mat Kelas A PPs UNY 2011



“Perbedaan merupakan rahmat” itu sepenggal kalimat yang pernah disampaikan guru agama saya yang masih saya ingat sampai sekarang. Yang terpenting untuk dilakukan adalah bagaimana me-menej perbedaan itu hingga dapat ditemukan titik temu yang mampu menjembatani perbedaan tersebut. Jika titik temu telah diperoleh maka pihak-pihak yang berbeda pandangan akan melakukan refleksi terhadap pandangannya. Dalam konteks ini titik temu berperan sebagai reflektor.  Setiap pertentangan pasti  akan menemukan titik temu sebagai penyelesaian, yaitu titik toleransi kedua pihak sebagai hasil renungan yang mendalam mengenai aspek-aspek yang relevan.

“Solusi yang ditawarkan adalah adanya saling pengakuan dan rasa menghormati, rasa saling membutuhkan dan saling mengisi, serta tidak saling menonjolkan egonya masing-masing, tidak bersifat hegemoni, proporsional sesuai dengan keahliannya masing-masing, menjalin komunikasi yang baik serta silaturakhim dalam bidang matematika dan pendidkan matematika”
Merupakan tawaran komprehensif untuk mereduksi kesenjangan perbedaan pandangan mengnai matematika.

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 16: Apakah Matematika Kontradiktif (Bagian Keenam)


Oleh Marsigit


Direfleksi oleh :

Rifai  11709251010

P Mat Kelas A PPs UNY 2011



Untuk bisa menginterpretasi (atau paling tidak menterjemahkan) suatu pernyataan diperlukan kemampuan verbal yang memadai agar terjemahan yang dihasilkan dapat mewakili apa yang semestinya diwakili sesuai dengan peruntukannya. Pemilihan kata yang salah dapat berakibat pernyataan yang diterjemahkan tidak dapat diungkap maknanya secara lengkap. Akibat lebih jauh dan yang lebih fatal adalah menyesatkan orang yang pembaca. Sebaliknya, jika pemilihan kata yang digunakan tepat dengan peruntukannya maka si penterjemah sangat berjasa dalam upaya ‘sodaqoh’ pengetahuan demi berkembangnya ilmu pengetahuan.
Dalam mengkaji matematika, pemaknaan “=” identik dengan “adalah” sangatlah tepat, karena dengan kata itu dapat diketahui kedudukan masing-masing unsur yang ada dalam pernyataan itu. Dengan demikian pemaknaan tersebut telah menggugah kesadaran –saya pada khususnya – bahwa terdapat kata dalam bahasa verbal yang dapat dengan tepat mewakili arti simbol dalam matematika.

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 15: Apakah Matematika Kontradiktif? (Bagian Kelima)


Oleh Marsigit


Direfleksi oleh :

Rifai  11709251010

P Mat Kelas A PPs UNY 2011



Elegi ini memaparkan penampakan matematika di ‘dunia’-nya. Di dunia logika formal matematika memiliki unsur bilangan, simbol-simbol, karakter, variabel, variabel kata, variabel kalimat, dan aturan yang menghubungkan antar unsur-unsurnya. Penampakan yang demikian tentu memenuhi kaidah-kaidah konsisten. Yang menjadi perhatian berikutnya adalah bagaimana melayani pemikiran  -saya sebut liar untuk mewakili kebebasan berfikir- yang beragam bahkan ekstrem dalam keberagamannya? Tentu yang bisa menjawab pertanyaan ini hanyalah pikiran kita masing-masing.

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 14: Apakah Matematika Kontradiktif? (Bagian Keempat)


Oleh Marsigit

Direfleksi oleh :

Rifai  11709251010

P Mat Kelas A PPs UNY 2011



Memandang dari sudut pandang filsafat tampak jelas bahwa matematika belumlah dikatakan ‘lengkap’ sebab tolok ukur lengkap atau tidaknya matematika tidak cukup hanya dengan melihat konsistensinya, tetapi juga harus memperhatikan keberlakuan konsistensi itu di semua dimensi. Karena matematika hanyalah produk oleh pikir manusia maka tidaklah mungkin matematika merepresentasi pikiran manusia secara utuh, sebab pada hakekatnya pikiran manusia tidak akan pernah statis. Pikiran manusia selalu dinamis, berubah-ubah, bahkan terosilasi dari setuju menjadi tidak setuju, dari sepaham menjadi tidak sepaham, dari percaya menjadi tidak percaya, dari mengikuti menjadi mengingkari, dan seterusnya sehingga produk dari pikiran manusia juga bersifat dinamis. Akibatnya produk tersebut hanya muncul sebagai manifestasi pemikiran satu sisi.

Mengadopsi pandangan filsafat bahwa satu sisi –saya sebut sisi positif (dalam makna penandaan saja, bukan efek) –  adalah Identitas dan di sisi lain –saya sebut sisi negatif (dalam makna penandaan saja, bukan efek) – adalah Kontradiksi dan dengan mempertimbangkan pemaknaan matematika sebagai konsistensi saja maka senyatanya tampak bahwa matematika belumlah lengkap karena mengabaikan dimensi kerberlakuan konsistensi itu sendiri.
Yang perlu digarisbawahi adalah pemaknaan kontradiksi intu sendiri agar tidak terjadi kontaminasi pemaknaan sehingga menyesatkan bagi yang belum memahaminya.

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 13: Apakah Matematika Kontradiktif? (Bagian Ketiga)


Oleh Marsigit


Direfleksi oleh :

Rifai  11709251010

P Mat Kelas A PPs UNY 2011



Pandangan dari satu sisi mengenai pemahaman matematika oleh kaum para Logicist-Formalist-Foundationlist bahwa matematika adalah ‘lengkap’ adalah benar karena mereka memang bergulat di lingkup dunia mereka, yaitu dunia matemtika yang harus disajikan agar dapat dikonsumsi khalayak. Karena human ability khalayak yang mengkonsumsi matematika  tidaklah seragam maka indikator yang adil atas lengkap atau tidaknya matematika adalah logika formal.

Disisi lain, kaum akademisi -yang memiliki kecakapan lebih dibanding khalayak pada umumnya- mampu melihat dari susut pandang lain yang lebih kritis mengenai matematika.


Dua kepentingan ini tidaklah mungkin dapat bersatu persepsi mengenai matematika sebab masih terbelenggu tendensi.  Oleh karenanya kajian tentang hal ini harus didasari metode intensif dan ekstensif. Dengan terbukanya pola pengkajian berdasar metode ini maka jelaslah pilah-pilah kapan matematika dikatakan lengkap dan kapan dikatakan tidak lengkap.

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 12: Apakah Matematika Kontradiktif? (Bagian kedua)


Oleh Marsigit


Direfleksi oleh :

Rifai  11709251010

P Mat Kelas A PPs UNY 2011



Aspek Ontologi

Anggapan logicist dan formalist bahwa Sistem atau Struktur Matematika yang dikembangkan berawal dari Anggapan atau Pra-anggapan (Assumption or Pre-assumption) adalah kebenaran yang tertutup. Paling tidak cara pandang sejauh batas yang bisa dicerna logika normatif. Jadi kebenarannya masih perlu diuji dengan pandangan yang lebih luas.

Aspek Epistimologi

Menguji konsistensi dan Ketidak-kontrakdisian Sistem Matematika berkenaan dengan Awal-Akhirnya Sistem, Sub-sistem, atau Unsur-unsur atau Elemennya

Aspek Aksiologi

Memperluas cakrawala berfikir bahwa sebuah objek akan bermakna lain apabila dimaknai oleh orang yang berbeda. Karenanya agar pemaknaan itu tidak saling bertabrakan antara satu dengan yang lain maka perlu disamakan dulu sudut pandangnya, yaitu minimal irisan kepentingan dari keduanya.

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 11: Apakah Matematika Kontradiktif ? (Bagian Kesatu)


Oleh Marsigit
(18 Maret 2011)



Direfleksi oleh :

Rifai  11709251010

P Mat Kelas A PPs UNY 2011



Aspek Ontologi

Penilaian hakiki terhadap terhadap suatu objek harus terlepas dari kacamata. Memandangnya hendaknya dengan mata telanjang, sebab kaca mata akan membatasi lingkup pandangan karena kacamata sewaktu memandang selalu membawa misi. Misi itulah yang menyebabkan perbedaan pemahaman. Jika sesuai dengan misi maka pemahaman terhadap objek itu “positif”. Sebaliknya jika misi tidak sesuai, maka pemahaman yang tertangkap adalah munculnya kontradiksi. Jadi untuk memahami apakah matematika kontradiksi atau bukan harus disepakati dahulu bahwa memandangnya dari perspeksi yang sama.



Aspek Epistimologi

Melalui adaptasi terhadap skala ketelitian memandang dan menguji konsistensi logika dan bentuk formal matematika.



Aspek Aksiologi

Membuka wacana bagi pihak-pihak berkepentingan untuk bersama-sama menyamakan cara pandang terhadap objek yang sama, yaitu matematika.

Kamis, 06 Oktober 2011

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 10: Architectonic Mathematics (2)



Oleh Marsigit
 (18 Maret 2011)

Direfleksi oleh :
Rifai (11709251010)
P Mat Kelas A Pasca Sarjana  UNY 2011

Aspek Ontologi
Hakekatnya melihat matematika pada diri siswa adalah melihat apa yang dapat dipikirkan dan apa yang mungkin dipikirkan olehnya. Hanya dia yang memiliki kewenangan dan kemampuan untuk memanifestasikan matematika. Dia mengkonstruksi bangunan matematikanya menurut kemampuan yang ia miliki. Pembatas hakekat matematika adalah seluas apa hal yang mampu ia pikirkan. Jadi hakekat matematika adalah pikiran para siswa itu sendiri

Aspek Epistimologi
Diyakini bahwa siswa memiliki kemampuan untuk memahami dan membangun konsep matematika melalui logika dan penalarannya dan membangun konsep matematika melalui penterjemahan terhadap fenomena matematika yang ia jumpai melalui kegiatan diskusi, menulis, mendengar, bertanya, praktek langsung, memproduksi, merevisi, memberi kritik atau masukkan agar diperoleh matematika yang obyektif yang secara berkesinambungan senantiasa terbarukan.

Aspek Aksiologi
Menggugah kesadaran para pemangku kebijakan di bidang pendidikan untuk bertindak arif dalam menentukan pembelajaran matematika yang alamiah bagi siswa.

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 9: School Mathematics


Oleh Marsigit
 (18 Maret 2011)

Direfleksi oleh :
Rifai (11709251010)
P Mat Kelas A Pasca Sarjana  UNY 2011

Aspek Ontologi
Hakekatnya school mathematics adalah kegiatan yang dilakukan si pebelajar dalam upaya membangun pengetahuan yang melibatkan aspek kemampuan melihat keteraturan dan hubungan, ekplorasi diri untuk menemukan solusi dari suatu masalah, penyelidikan suatu fenomena, dan mengkomunikasikan hasilnya.

Aspek Epistimologi
Si pebelajar menjalani tahap Elaborasi, eksplorasi, dan komunikasi.

Aspek Aksiologi
Dihasilkan pemahaman yang terkesan familier dan tidak kaku bagi siapa saja yang ingin mengetahui school mathematics.

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 8: Architectonic Mathematics (1)


Oleh Marsigit
 (18 Maret 2011)

Direfleksi oleh :
Rifai (11709251010)
P Mat Kelas A PPs UNY 2011

Aspek Ontologi
Usaha memperbaiki pendidikan matematika di sekolah harus selaras dengan apa yang dibutuhkan, yang mana yang dibutuhkan, dan bagaimana melakukannya. Komposisi ketiganya harus proporsional. Jadi hakekatnya harus dapat ditemukan "THE KIND OF MATHEMATICS THAT SUITABLE FOR YOUNGER LEARNER".

Aspek Epistimologi
Self transformation, yaitu  perubahan bentuk dari fenomena di lingkungan internal pendidikan, karena dari sanalah tumbuh kesadaran tentang korelasi antara pendidikan matematika dengan konteks ruang dan waktu dalam upaya menemukan kesesuaian cara pandang yang sejati. 

Aspek Aksiologi
Menghasilkan inovasi terhadap self tranformation bagi setiap individu pelaku belajar dan mengajar yang ingin melakukan perubahan pendidikan matematika, diantaranya : replacement gagasan, pembentukan teori, pembentukan konsep matematika, pembentukan metode pembelajaran matematika, pembentukan sikap matematik, dan pembentukan kompetensi matematik.