FILSAFAT DALAM PERSPEKTIF LINTAS KEHIDUPAN
Berfilsafat adalah kegiatan refleksi diri terhadap pikiran kita. Karena pikiran kita selalu tersekat oleh dua pilihan yaitu peduli atau mengabaikan dimendi ruang dan waktu, maka pikiran-pikiran yang muncul akan bergerak berpindah-pindah secara acak dari peduli dimensi ruang dan waktu dan mengabaikan dimensi ruang dan waktu.
Akan halnya dengan dinamisasi duniawi yang bersifat praktis, peran filsafat menduduki peran sentral. Filsafat akan memberi dasar pemikiran untuk bertindak bijak dalam upaya menunaikan tanggung jawab seseorang saat itu. Filafat mengarahkan seseorang untuk dapat berperilaku sebagaimana dicontohkan oleh bunga teratai nan indah di tengah kolam. Agar keindahan bunganya dapat dinikmati oleh siapa saja yang ada di sekitarnya maka ia harus selalu menyesuaikan diri terhadap lingkungannya.
Saat air surut (atau bahkan habis) teratai akan berada di dasarkolam. Ia tidak bersikukuh untuk tetap di atas karena ia sadar bahwa tidaklah akan ada sumer penghidupan baginya di atas kolam, meskipun disisi lain ia mengabaikan dimensi kenyamanan para penikmat indahnya bunga teratai karena mereka harus bersusah payah melongok ke dalam kolam agar bisa melihat bunga teratai.
Saat air kolam penuh...
Teratai tak akan bersikukuh menancapkan akarnya di dalam kolam, tetapi ia akan mengikuti topangan air “si sumber kehidupan” menuju permukaan kolam karena teratai peduli pada dimensi ruang dan waktu si penikmat. Ia sadar bahwa dengan demikian si penikmat akan dimanjakan dengan tontonan estetik yang dengan mudah didapatkan. Sebaliknya, ia sadar bahwa jika ia mengabaikan dimensi ruang dan waktu peikmat dan ia tetap di dasar kolam maka ia akan tenggelam, tidak tampak keindahannya. Berarti ia mengabaikan dimensi ruang dan waktu dirinya sendiri bahwa ia adalah objek untuk dinikmati.
Aku Rifai, teratai kehidupan...
Air kehidupanku adalah keluargaku, saudara-saudaraku, orang tuaku, tetanggaku, teman-teman guru di sekolahku, teman-teman karyawan di sekolahku, siswa-siswaku, oragn tua siswa-siswaku, teman-teman kuliahku, dosen-dosenku, dan (tidak terlupakan) logikaku.
Disetiap saat air kehidupanku senantiasa memposisikanku pada dimensi ruang dan waktu yang niscaya satu.
Sebagai kepala keluarga aku harus memiliki kharisma pemimpin, pengayom, menejer, dan sekaligus sahabat bagi anak dan istriku. Disaat mereka butuh tuntunan, aku harus siap menjadi pandom, disaat mereka resah, gundah hati, aku harus siap menjadi penentram, disaat mereka hampir kehilangan arah kehidupan, aku harus siap menjadi rel yang meluruskan arah mereka, namun aku juga manusia, sama seperti mereka. Maka aku juga harus berkedudukan sejajar dengan mereka, sebagai sahabat, kerabat, dan teman karib yang bersedia memikul segala kewajiban bersama-sama agar terasa ringan.
Sebagai bagian dari keluargaku aku harus berfikir makro untuk memposisikan diri. Sebagai anak dari orang tua dan mertuaku, aku harus berbakti kepada mereka. Sebagai adik dari kakakku dan kakak dari adikku aku harus bisa mengisi ruang kehidupan diantara kewajiban yang belum tertunaikan.
Sebagai bagian dari masyarakat sedusunku aku harus mampu “melayani” mereka. Sesekali aku diminta menjadi ‘panata cara’ hajatan, saya siap. Kadang aku diminta menerima ‘pasrah manten’ –yang notabene sesanggane pinisepuh-, aku harus mampu menjadi orang yang dituakan. Tidak jarang pula aku diminta remaja masjid untuk memandu acara anak-anak TPA, Insaallah siap dan ikhlas melaksanakan, bahkan diminta ikut jalan kaki dalam rangka lomba takbir menyambut Idul Adha, aku siap bergabung.
Sebagai bagian dari teman sejawat di SMP N 3 Banguntapan aku harus bisa saling asah, asih, dan asuh. Saling asah kemampuan pedagogik dalam koridor meningkatkan kualitas pembelajaran, saling asih untuk mempererat tali silaturahmi, dan saling asuh untuk menemukan kesempurnaan pemenuhan kebutuhan aspek kehidupan di sekolah.
Sebagai guru dari siswa-siswaku, aku harus bisa menjadi teladan untuk berbuat sesuai norma, menjadi pelita bagi siswaku yang berda dalam kegelapan pengetahuan, sebagai orang tua kedua setelah orang tua kandung mereka.
Sebagai guru aku punya kolega para orang tua siswa. Kepada mereka aku mengkomunikasikan perkembangan belajar putra-putrinya. Aku berposisi setara dengan mereka, sama-sama berupaya memantau, dan menindaklanjuti perkembangan siswa-siswaku.
Sebagai mahasiswa program studi Pendidikan Matematematika pasca sarjana aku menanggung beban moral terhadap teman-teman sejawatku. Aku dipandang memiliki ilmu yang ‘sedikit’ lebih dibandingkan teman-teman (mungkin ini pandangan sepihak diriku berdasar pengamatan interaksi sehari-hari di sekolah). Akibatnya, aku harus senantiasa meng-up date pengetahuanku untuk memenuhi kebutuhan informasi teman-temanku.
Sebagai mahasiswa dari para dosenku, aku harus mampu memenuhi kewajiban berupa pemenuhan terhadap instruksi yang diberikan. Tetapi aku merasa alangkah lemahnya diriku, tenagaku tidaklah cukup kuat untuk menjalani semua itu. Kebugaranku tidaklah cukup fit untuk mendukung rencana-rencanaku, kecepatan logikaku tidaklah secepat teman-temanku untuk meniti jejak langkah para dosenku dalam menggapai ilmu.
Akhirnya logikaku yang memberi penentu dengan tanpa meninggalkan rasaku. Logika menuntunku untuk menemukan kebenaran hakiki dari apa yang ada dihadapanku. Rasa menuntunku memilah permasalahan untuk kemudian membuat strata dan prioritas dalam upaya menemukan keputusan bijak menyikapi keadaan. Jadi sebenar-benar sikap bijaksana adalah sikap yang diambil dengan mempertimbangkan kebenaran logika tanpa meninggalkan pertimbangan unsur rasa. Langkah ini dapat ditempuh melalui refleksi terhadap diriku : kemampuanku, dan kelemahanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar