Sabtu, 31 Desember 2011

Sekolah Bertaraf Internasional : Sebuah Epistemology

Sekolah Bertaraf Internasional : Sebuah Epistemology
Oleh Marsigit

Direfleksi oleh
RIFAI (11709251010)
P Mat A PPs UNY

Konsep SBI adalah ideal, dapat terwujud bila ditunjang sekian banyak prasarat yang harus dipenuhi. Kenyataannya saat ketuk palu SBI dijalankan prasarat-prasarat tersebut masih "dipaksakan" untuk dikatakan siap. Tentunya ini berlaku untuk sekolah RSBI yang segera bermetamorfose ke SBI berdasar target waktu (bukan target kompetensi). Jika ini dilanjutkan maka yang terjadi adalah menyimpangnya tujuan/target SBI. Semula SBI berangan-angan untuk menelurkan outcome lulusan siswa yang benar-benar berkembang lebih maju dibanding siswa lain di sekolah reguler non SBI sebagaimana dikatakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh "Jika semua anak-anak pintar harus bersekolah di sekolah yang reguler, maka dikhawatirkan tidak ada kesempatan untuk berkembang". Namun mengingat kesiapan beberapa RSBI yang dipandang kurang siap maka tujuan/target SBI akan terdegradasi ke Tujuan/target reuler. Tujuan mulia SBI hanya dapat terwujud jika prasarat-prasarat SBI betul-betul dipenuhi. Harapan besar dititipkan kepada pemangku kebijakan penentuan strata SBI semoga vonis SBI bagi sekolah yang dinyatakan lolos benar-benar atas pertimbangan kompetensi sekolah tersebut untuk mampu menampung dan mengebangkan kemampuan siswa-siswanya.

Memahami Hakekat Macam-macam Sumber Belajar untuk Menunjang PBM pada Sekolah Bertaraf Internasional

 
Oleh :  Rifai, Mahasiswa Pendidikan Matematika Pasca Sarjana UNY


Perintah pertama yang diterima oleh Muhammad melalui malaikat Jibril diawal kenabiannya adalah “iqra’ ” yang artinya “bacalah” (QS Al-Alaq : 1). Sangat dalam makna perintah Allah kepada calon nabi panutan umat muslim itu, oleh karenanya tidak cukup kita menterjemahkannya secara dangkal. Diperlukan ekspansi rasio untuk dapat menyelami lebih dalam mengenai perintah itu. Secara harafiah “bacalah” berarti membaca tulisan, simbol, gambar, diagram, atau bahas tulis lain yang dapat divisualkan. Dalam arti luas, membaca kita artikan sebagai usaha untuk memahami setiap fenomena yang kita hadapi. Konsekuensinya, “bacalah” dapat kita artikan sebagai aktivitas yang simultan misalnya : membaca gejala alam, membaca manfaat benda-benda di lingkungan sekitar, membaca perilaku binatang, membaca pikiran lawan bicara, membaca ekspresi wajah seseorang, membaca makna gerak tubuh, membaca karakter siswa berdasar usia, membaca karakter siswa berdasar potensi, membaca apa-apa yang diperlukan siswa kerkebutuhan khusus, dan lain-lain. Selanjutnya segala sesuatu yang kita baca disebut sumber bacaan. Sumber bacaan yang kita baca akan menginspirasi kita untuk belajar, yang dalam ranah formalnya berupa kegiatan pembelajaran dimana kegiatan ini bernaung dibawah bendera pendidikan.


Undang-undang sistem pendidikan nasional (UU no 20 tahun 2003) pasal 50 ayat 3 yang menyatakan pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional berimplikasi kepada kebijakan pemerintah berupa dibentuknya Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Dibentuknya RSBI  selain dengan dasar untuk memberikan layanan khusus kepada anak-anak pintar, dibukanya RSBI juga sebagai upaya mendorong terciptanya central of excellent di seluruh jenjang pendidikan (Kompas, Jumat 30/12/2011). Menilik tujuan yang demikian maka pembelajaran di sekolah RSBI haruslah mengakomodasi kebutuhan tersebut, diantaranya tersedianya sumber belajar yang memadai.


Sumber belajar yang tersedia hendaknya yang mampu menginspirasi siswa dalam berimprovisasi memilih sikap menuju dewasa secara alamiah. Diibaratkan siswa adalah benih, maka sekolah adalah tempat persemaian, guru adalah patok penopang (lanjaran-Bahasa Jawa) yang merawat dan membimbing siswa, sedangkan sumber belajar adalah unsur hara yang menopang kelangsungan hidup si benih untuk tumbuh dewasa. Oleh karena itu sesuatu dapat disebut sumber belajar apabila dapat digunakan oleh siswa sebagai pemantik munculnya proses berfikir. Imam Suryo Prayogo (2008:2-3) berpendapat, jika pemikiran manusia dapat dipelajari, maka ada empat golongan pemikiran manusia, yaitu :

1.      pemikiran pseudo ilmiah,

2.      pemikiran awam,

3.      pemikiran ilmiah, dan

4.      pemikiran fiosofis.

Relevan dengan kajian mengenai sumber belajar di sekolah, pemikiran yang diadaptasi adalah pemikiran ilmiah, yaitu pemikiran yang mendasarkan pada metode-metode, tata pikir yang didukung penggunaan hipotesis untuk menguji kebenaran konsep teori atau pemikiran dalam dunia empiris proses keilmuan.


Kriteria yang dapat dijadikan acuan dalam memilih sumber belajar diantaranya :

1.      mudah didapat : tersedia di lingkungan sekitar kita, terjangkau harganya, tidak memerlukan prosedur yang rumit untuk mendapatkannya;

2.      fleksibel jika digunakan untuk mewujudkan berbagai tujuan pembelajaran;

3.      up gradeable dalam mengikuti perkembangan pengetahuan;

4.      membangkitkan minat belajar siswa;

5.      menjaga reliabilitas motivasi belajar siswa, terhindar dari frustasi.



Apabila kriteria sebagaimana disebutkan di atas dapat dipenuhi maka sumber belajar itu dapat memenuhi fungsinya, yaitu :

1.      meningkatkan produktivitas pembelajaran;

2.      menyediakan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk melakukan eksplorasi pengetahuan;

3.      menyediakan kesempatan teradinya loncatan pembelajaran;

4.      mendorong siswa untuk tertarik mengetahui isinya;

5.      membimbing siswa menemukan konsep berdasar pola sistematis.


Menyadari pentingnya dukungan sumber belajar yang memadai, maka seluruh komponen pendidikan harus berani kerja keras untuk mampu mewujudkan kriteria yang telah ditentukan.

Minggu, 11 Desember 2011

FILSAFAT DALAM PERSPEKTIF LINTAS KEHIDUPAN

FILSAFAT DALAM PERSPEKTIF LINTAS KEHIDUPAN



Berfilsafat adalah kegiatan refleksi diri terhadap pikiran kita. Karena pikiran kita selalu tersekat oleh dua pilihan yaitu peduli atau mengabaikan dimendi ruang dan waktu, maka pikiran-pikiran yang muncul akan bergerak berpindah-pindah secara acak dari peduli dimensi ruang dan waktu dan mengabaikan dimensi ruang dan waktu.



Akan halnya dengan dinamisasi duniawi yang bersifat praktis, peran filsafat menduduki peran sentral. Filsafat akan memberi dasar pemikiran untuk bertindak bijak dalam upaya menunaikan tanggung jawab seseorang saat itu. Filafat mengarahkan seseorang untuk dapat berperilaku sebagaimana dicontohkan oleh bunga teratai nan indah di tengah kolam. Agar keindahan bunganya dapat dinikmati oleh siapa saja yang ada di sekitarnya maka ia harus selalu menyesuaikan diri terhadap lingkungannya.



Saat air surut (atau bahkan habis) teratai akan berada di dasarkolam. Ia tidak bersikukuh untuk tetap di atas karena ia sadar bahwa tidaklah akan ada sumer penghidupan baginya di atas kolam, meskipun disisi lain ia mengabaikan dimensi kenyamanan para penikmat indahnya bunga teratai karena mereka harus bersusah payah melongok ke dalam kolam agar bisa melihat bunga teratai.



Saat air kolam penuh...

Teratai tak akan bersikukuh menancapkan akarnya di dalam kolam, tetapi ia akan mengikuti topangan air “si sumber kehidupan” menuju permukaan kolam karena teratai peduli pada dimensi ruang dan waktu si penikmat.  Ia sadar bahwa dengan demikian si penikmat akan dimanjakan dengan tontonan estetik yang dengan mudah didapatkan. Sebaliknya, ia sadar bahwa jika ia mengabaikan dimensi ruang dan waktu peikmat dan ia tetap di dasar kolam maka ia akan tenggelam, tidak tampak keindahannya. Berarti ia mengabaikan dimensi ruang dan waktu dirinya sendiri  bahwa ia adalah objek untuk dinikmati.



Aku Rifai, teratai kehidupan...

Air kehidupanku adalah keluargaku, saudara-saudaraku, orang tuaku, tetanggaku, teman-teman guru di sekolahku, teman-teman karyawan di sekolahku, siswa-siswaku, oragn tua siswa-siswaku, teman-teman kuliahku, dosen-dosenku, dan (tidak terlupakan) logikaku.



Disetiap saat air kehidupanku senantiasa memposisikanku pada dimensi ruang dan waktu yang niscaya satu.



Sebagai kepala keluarga aku harus memiliki kharisma pemimpin, pengayom, menejer, dan sekaligus sahabat bagi anak dan istriku. Disaat mereka butuh tuntunan, aku harus siap menjadi pandom, disaat mereka resah, gundah hati, aku harus siap menjadi penentram, disaat mereka hampir kehilangan arah kehidupan, aku harus siap menjadi rel yang meluruskan arah mereka, namun aku juga manusia, sama seperti mereka. Maka aku juga harus berkedudukan sejajar dengan mereka, sebagai sahabat, kerabat, dan teman karib yang bersedia memikul segala kewajiban bersama-sama agar terasa ringan.



Sebagai bagian dari keluargaku aku harus berfikir makro untuk memposisikan diri. Sebagai anak dari orang tua dan mertuaku, aku harus berbakti kepada mereka. Sebagai adik dari kakakku dan kakak dari adikku aku harus bisa mengisi ruang kehidupan diantara kewajiban yang belum tertunaikan.



Sebagai bagian dari masyarakat sedusunku aku harus mampu “melayani” mereka. Sesekali aku diminta menjadi ‘panata cara’ hajatan, saya siap. Kadang aku diminta menerima ‘pasrah manten’ –yang notabene sesanggane pinisepuh-, aku harus mampu menjadi orang yang dituakan. Tidak jarang pula aku diminta remaja masjid untuk memandu acara anak-anak TPA, Insaallah siap dan ikhlas melaksanakan, bahkan diminta ikut jalan kaki dalam rangka lomba takbir menyambut Idul Adha, aku  siap bergabung.



Sebagai bagian dari teman sejawat di SMP N 3 Banguntapan aku harus bisa saling asah, asih, dan asuh. Saling asah kemampuan pedagogik dalam koridor meningkatkan kualitas pembelajaran, saling asih untuk mempererat tali silaturahmi, dan saling asuh untuk menemukan kesempurnaan pemenuhan kebutuhan aspek kehidupan di sekolah.



Sebagai guru dari siswa-siswaku, aku harus bisa menjadi teladan untuk berbuat sesuai norma, menjadi pelita bagi siswaku yang berda dalam kegelapan pengetahuan, sebagai orang tua kedua setelah orang tua kandung mereka.



Sebagai guru aku punya kolega para orang tua siswa. Kepada mereka aku mengkomunikasikan perkembangan belajar putra-putrinya. Aku berposisi setara dengan mereka, sama-sama berupaya memantau, dan menindaklanjuti perkembangan siswa-siswaku.



Sebagai mahasiswa program studi Pendidikan Matematematika pasca sarjana aku menanggung beban moral terhadap teman-teman sejawatku. Aku dipandang memiliki ilmu yang ‘sedikit’ lebih dibandingkan teman-teman (mungkin ini pandangan sepihak diriku berdasar pengamatan interaksi sehari-hari di sekolah). Akibatnya, aku harus senantiasa meng-up date pengetahuanku untuk memenuhi kebutuhan informasi teman-temanku.



Sebagai mahasiswa dari para dosenku, aku harus mampu memenuhi kewajiban berupa pemenuhan terhadap instruksi yang diberikan. Tetapi aku merasa alangkah lemahnya diriku, tenagaku tidaklah cukup kuat untuk menjalani semua itu. Kebugaranku tidaklah cukup fit untuk mendukung rencana-rencanaku, kecepatan logikaku tidaklah secepat teman-temanku untuk meniti jejak langkah para dosenku dalam menggapai ilmu.



Akhirnya logikaku yang memberi penentu dengan tanpa meninggalkan rasaku. Logika menuntunku untuk menemukan kebenaran hakiki dari apa yang ada dihadapanku. Rasa menuntunku memilah permasalahan untuk kemudian membuat strata dan prioritas dalam upaya menemukan keputusan bijak menyikapi keadaan. Jadi sebenar-benar sikap bijaksana adalah sikap yang diambil dengan mempertimbangkan kebenaran logika tanpa meninggalkan pertimbangan unsur rasa. Langkah ini dapat ditempuh melalui refleksi terhadap diriku : kemampuanku, dan kelemahanku.