Oleh : Rifai, P Mat A 11709251010
Diriku tidak lain adalah pikiranku, aktivitasku tidak lain adalah perwujudan pikiranku.
Bagian pikiranku adalah abstraksi, idealisasi, dan simplifikasi. Melalui ketiganya dapat aku mengtahui benda-benda matematika. Artinya benda-benda matematika tidak dapat disentuh dengan dimensi kebendaan karena sifatnya abstrak. Sayangnya tidak semua orang mampu memikirkan hal yang sama. Setiap orang memiliki perspeksi masing-masing terhadap benda yang dipikirkannya. Untuk bersama-sama memikirkan matematika bagi sekelompok orang haruslah didahului transfer pengetahuan mengenai matematika. Transfer pengetahuan yang dimaksud tidak lain adalah pendidikan. Menyadari keberagaman individu, maka pendidikan tidak serta merta terwujud dan berjalan mulus. Diperlukan sikap yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan yang tidak lain adalah (salah satu) pengertian filsafat (http://pakguruonline.pendidikan.net/buku_tua_pakguru_dasar_kpdd_11.html). Selanjutnya filsafat pendidikan diartikan sebagai upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Brubacher (1950) mengelompokkan filsafat dalam dua kelompok besar, yaitu : (1) filsafat pendidikan “progresif” yang didukung oleh filsafat pragmatisme John Dewey dan romantik naturalisme Roousseau, (2) filsafat pendidikan “konservatif” yang didasari filsafat idealisme, realisme humanisme (humanisme rasional), dan supernaturalisme atau realisme religius.
Pengertian, pendapat, kategori mengenai matematika, pendidikan dan filsafat merupakan wacana bagiku untuk membuat pasangan-pasangan relasi antar ketiganya agar terbentuk struktur pemahaman yang tidak rumit sehingga mudah dimengerti. Apalagi saat ini, dimensi ruang dan waktuku menempatkanku sebagai guru matematika. Menjadi kewajibanku untuk berfikir secara sadar dan dewasa dalam rangka mengajak siswa-siswaku -yang beragam kemampuan berfikirnya- memikirkan matematika melalui pendidikan. Oleh karena itu pasangan-pasangan relasi yang aku susun harus tampak nyata dimata siswa-siswaku, seolah-olah dapat mereka gapai menggunakan tangan-tangan mereka sehingga mereka terinspirasi dan termotivasi untuk menemukan makna, adab, dan fungsi matematika.
Itulah harapanku dalam secuil dimensi keguruanku.