Sabtu, 31 Desember 2011

Memahami Hakekat Macam-macam Sumber Belajar untuk Menunjang PBM pada Sekolah Bertaraf Internasional

 
Oleh :  Rifai, Mahasiswa Pendidikan Matematika Pasca Sarjana UNY


Perintah pertama yang diterima oleh Muhammad melalui malaikat Jibril diawal kenabiannya adalah “iqra’ ” yang artinya “bacalah” (QS Al-Alaq : 1). Sangat dalam makna perintah Allah kepada calon nabi panutan umat muslim itu, oleh karenanya tidak cukup kita menterjemahkannya secara dangkal. Diperlukan ekspansi rasio untuk dapat menyelami lebih dalam mengenai perintah itu. Secara harafiah “bacalah” berarti membaca tulisan, simbol, gambar, diagram, atau bahas tulis lain yang dapat divisualkan. Dalam arti luas, membaca kita artikan sebagai usaha untuk memahami setiap fenomena yang kita hadapi. Konsekuensinya, “bacalah” dapat kita artikan sebagai aktivitas yang simultan misalnya : membaca gejala alam, membaca manfaat benda-benda di lingkungan sekitar, membaca perilaku binatang, membaca pikiran lawan bicara, membaca ekspresi wajah seseorang, membaca makna gerak tubuh, membaca karakter siswa berdasar usia, membaca karakter siswa berdasar potensi, membaca apa-apa yang diperlukan siswa kerkebutuhan khusus, dan lain-lain. Selanjutnya segala sesuatu yang kita baca disebut sumber bacaan. Sumber bacaan yang kita baca akan menginspirasi kita untuk belajar, yang dalam ranah formalnya berupa kegiatan pembelajaran dimana kegiatan ini bernaung dibawah bendera pendidikan.


Undang-undang sistem pendidikan nasional (UU no 20 tahun 2003) pasal 50 ayat 3 yang menyatakan pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional berimplikasi kepada kebijakan pemerintah berupa dibentuknya Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Dibentuknya RSBI  selain dengan dasar untuk memberikan layanan khusus kepada anak-anak pintar, dibukanya RSBI juga sebagai upaya mendorong terciptanya central of excellent di seluruh jenjang pendidikan (Kompas, Jumat 30/12/2011). Menilik tujuan yang demikian maka pembelajaran di sekolah RSBI haruslah mengakomodasi kebutuhan tersebut, diantaranya tersedianya sumber belajar yang memadai.


Sumber belajar yang tersedia hendaknya yang mampu menginspirasi siswa dalam berimprovisasi memilih sikap menuju dewasa secara alamiah. Diibaratkan siswa adalah benih, maka sekolah adalah tempat persemaian, guru adalah patok penopang (lanjaran-Bahasa Jawa) yang merawat dan membimbing siswa, sedangkan sumber belajar adalah unsur hara yang menopang kelangsungan hidup si benih untuk tumbuh dewasa. Oleh karena itu sesuatu dapat disebut sumber belajar apabila dapat digunakan oleh siswa sebagai pemantik munculnya proses berfikir. Imam Suryo Prayogo (2008:2-3) berpendapat, jika pemikiran manusia dapat dipelajari, maka ada empat golongan pemikiran manusia, yaitu :

1.      pemikiran pseudo ilmiah,

2.      pemikiran awam,

3.      pemikiran ilmiah, dan

4.      pemikiran fiosofis.

Relevan dengan kajian mengenai sumber belajar di sekolah, pemikiran yang diadaptasi adalah pemikiran ilmiah, yaitu pemikiran yang mendasarkan pada metode-metode, tata pikir yang didukung penggunaan hipotesis untuk menguji kebenaran konsep teori atau pemikiran dalam dunia empiris proses keilmuan.


Kriteria yang dapat dijadikan acuan dalam memilih sumber belajar diantaranya :

1.      mudah didapat : tersedia di lingkungan sekitar kita, terjangkau harganya, tidak memerlukan prosedur yang rumit untuk mendapatkannya;

2.      fleksibel jika digunakan untuk mewujudkan berbagai tujuan pembelajaran;

3.      up gradeable dalam mengikuti perkembangan pengetahuan;

4.      membangkitkan minat belajar siswa;

5.      menjaga reliabilitas motivasi belajar siswa, terhindar dari frustasi.



Apabila kriteria sebagaimana disebutkan di atas dapat dipenuhi maka sumber belajar itu dapat memenuhi fungsinya, yaitu :

1.      meningkatkan produktivitas pembelajaran;

2.      menyediakan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk melakukan eksplorasi pengetahuan;

3.      menyediakan kesempatan teradinya loncatan pembelajaran;

4.      mendorong siswa untuk tertarik mengetahui isinya;

5.      membimbing siswa menemukan konsep berdasar pola sistematis.


Menyadari pentingnya dukungan sumber belajar yang memadai, maka seluruh komponen pendidikan harus berani kerja keras untuk mampu mewujudkan kriteria yang telah ditentukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar