Oleh Marsigit
Direfleksi oleh :
Rifai 11709251010
P Mat Kelas A PPs UNY 2011
Memandang dari sudut pandang filsafat tampak jelas bahwa matematika belumlah dikatakan ‘lengkap’ sebab tolok ukur lengkap atau tidaknya matematika tidak cukup hanya dengan melihat konsistensinya, tetapi juga harus memperhatikan keberlakuan konsistensi itu di semua dimensi. Karena matematika hanyalah produk oleh pikir manusia maka tidaklah mungkin matematika merepresentasi pikiran manusia secara utuh, sebab pada hakekatnya pikiran manusia tidak akan pernah statis. Pikiran manusia selalu dinamis, berubah-ubah, bahkan terosilasi dari setuju menjadi tidak setuju, dari sepaham menjadi tidak sepaham, dari percaya menjadi tidak percaya, dari mengikuti menjadi mengingkari, dan seterusnya sehingga produk dari pikiran manusia juga bersifat dinamis. Akibatnya produk tersebut hanya muncul sebagai manifestasi pemikiran satu sisi.
Mengadopsi pandangan filsafat bahwa satu sisi –saya sebut sisi positif (dalam makna penandaan saja, bukan efek) – adalah Identitas dan di sisi lain –saya sebut sisi negatif (dalam makna penandaan saja, bukan efek) – adalah Kontradiksi dan dengan mempertimbangkan pemaknaan matematika sebagai konsistensi saja maka senyatanya tampak bahwa matematika belumlah lengkap karena mengabaikan dimensi kerberlakuan konsistensi itu sendiri.
Yang perlu digarisbawahi adalah pemaknaan kontradiksi intu sendiri agar tidak terjadi kontaminasi pemaknaan sehingga menyesatkan bagi yang belum memahaminya.