Minggu, 23 Oktober 2011

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 25: Kompromi antar Pure Mathematics dgn School Mathemastics (Jawaban untuk Prof Sutarto Bgn Keempat)


Oleh Marsigit


Direfleksi oleh :

Rifai  11709251010

P Mat Kelas A PPs UNY 2011



Quasi-Mathematics, jembatan yang melintang di atas jurang kesenjangan pemahaman mengenai matematika. Melalui jembatan itu toleransi dan pengakuan keterpisahan masing-masing pihak akan mengalir dengan bebas. Aliran yang tidak lagi memperhitungkan proporsi/timbangan muatan untuk masing-masing pihak untuk menonjolkan diri sendiri.
Akan tetapi secara jujur saya belum bisa menemukan gambaran kongkret mengenai apa itu Quasi-Mathematics?, bagaimana manifestasinya dalam matematika terapan? dan aktivitas apa saja yang masuk dalam ranah Quasi-Mathematics? Mohon kiranya Bapak berkenan memberi paparan lebih detail. Terima kasih.

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 24: Solusi 3+4=7 kontradiktif? (Jawaban utk Prof Sutarto Bgn Ketiga)


Oleh Marsigit


Direfleksi oleh :

Rifai  11709251010

P Mat Kelas A PPs UNY 2011



“Perbedaan merupakan rahmat” itu sepenggal kalimat yang pernah disampaikan guru agama saya yang masih saya ingat sampai sekarang. Yang terpenting untuk dilakukan adalah bagaimana me-menej perbedaan itu hingga dapat ditemukan titik temu yang mampu menjembatani perbedaan tersebut. Jika titik temu telah diperoleh maka pihak-pihak yang berbeda pandangan akan melakukan refleksi terhadap pandangannya. Dalam konteks ini titik temu berperan sebagai reflektor.  Setiap pertentangan pasti  akan menemukan titik temu sebagai penyelesaian, yaitu titik toleransi kedua pihak sebagai hasil renungan yang mendalam mengenai aspek-aspek yang relevan.

“Solusi yang ditawarkan adalah adanya saling pengakuan dan rasa menghormati, rasa saling membutuhkan dan saling mengisi, serta tidak saling menonjolkan egonya masing-masing, tidak bersifat hegemoni, proporsional sesuai dengan keahliannya masing-masing, menjalin komunikasi yang baik serta silaturakhim dalam bidang matematika dan pendidkan matematika”
Merupakan tawaran komprehensif untuk mereduksi kesenjangan perbedaan pandangan mengnai matematika.

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 16: Apakah Matematika Kontradiktif (Bagian Keenam)


Oleh Marsigit


Direfleksi oleh :

Rifai  11709251010

P Mat Kelas A PPs UNY 2011



Untuk bisa menginterpretasi (atau paling tidak menterjemahkan) suatu pernyataan diperlukan kemampuan verbal yang memadai agar terjemahan yang dihasilkan dapat mewakili apa yang semestinya diwakili sesuai dengan peruntukannya. Pemilihan kata yang salah dapat berakibat pernyataan yang diterjemahkan tidak dapat diungkap maknanya secara lengkap. Akibat lebih jauh dan yang lebih fatal adalah menyesatkan orang yang pembaca. Sebaliknya, jika pemilihan kata yang digunakan tepat dengan peruntukannya maka si penterjemah sangat berjasa dalam upaya ‘sodaqoh’ pengetahuan demi berkembangnya ilmu pengetahuan.
Dalam mengkaji matematika, pemaknaan “=” identik dengan “adalah” sangatlah tepat, karena dengan kata itu dapat diketahui kedudukan masing-masing unsur yang ada dalam pernyataan itu. Dengan demikian pemaknaan tersebut telah menggugah kesadaran –saya pada khususnya – bahwa terdapat kata dalam bahasa verbal yang dapat dengan tepat mewakili arti simbol dalam matematika.

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 15: Apakah Matematika Kontradiktif? (Bagian Kelima)


Oleh Marsigit


Direfleksi oleh :

Rifai  11709251010

P Mat Kelas A PPs UNY 2011



Elegi ini memaparkan penampakan matematika di ‘dunia’-nya. Di dunia logika formal matematika memiliki unsur bilangan, simbol-simbol, karakter, variabel, variabel kata, variabel kalimat, dan aturan yang menghubungkan antar unsur-unsurnya. Penampakan yang demikian tentu memenuhi kaidah-kaidah konsisten. Yang menjadi perhatian berikutnya adalah bagaimana melayani pemikiran  -saya sebut liar untuk mewakili kebebasan berfikir- yang beragam bahkan ekstrem dalam keberagamannya? Tentu yang bisa menjawab pertanyaan ini hanyalah pikiran kita masing-masing.

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 14: Apakah Matematika Kontradiktif? (Bagian Keempat)


Oleh Marsigit

Direfleksi oleh :

Rifai  11709251010

P Mat Kelas A PPs UNY 2011



Memandang dari sudut pandang filsafat tampak jelas bahwa matematika belumlah dikatakan ‘lengkap’ sebab tolok ukur lengkap atau tidaknya matematika tidak cukup hanya dengan melihat konsistensinya, tetapi juga harus memperhatikan keberlakuan konsistensi itu di semua dimensi. Karena matematika hanyalah produk oleh pikir manusia maka tidaklah mungkin matematika merepresentasi pikiran manusia secara utuh, sebab pada hakekatnya pikiran manusia tidak akan pernah statis. Pikiran manusia selalu dinamis, berubah-ubah, bahkan terosilasi dari setuju menjadi tidak setuju, dari sepaham menjadi tidak sepaham, dari percaya menjadi tidak percaya, dari mengikuti menjadi mengingkari, dan seterusnya sehingga produk dari pikiran manusia juga bersifat dinamis. Akibatnya produk tersebut hanya muncul sebagai manifestasi pemikiran satu sisi.

Mengadopsi pandangan filsafat bahwa satu sisi –saya sebut sisi positif (dalam makna penandaan saja, bukan efek) –  adalah Identitas dan di sisi lain –saya sebut sisi negatif (dalam makna penandaan saja, bukan efek) – adalah Kontradiksi dan dengan mempertimbangkan pemaknaan matematika sebagai konsistensi saja maka senyatanya tampak bahwa matematika belumlah lengkap karena mengabaikan dimensi kerberlakuan konsistensi itu sendiri.
Yang perlu digarisbawahi adalah pemaknaan kontradiksi intu sendiri agar tidak terjadi kontaminasi pemaknaan sehingga menyesatkan bagi yang belum memahaminya.

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 13: Apakah Matematika Kontradiktif? (Bagian Ketiga)


Oleh Marsigit


Direfleksi oleh :

Rifai  11709251010

P Mat Kelas A PPs UNY 2011



Pandangan dari satu sisi mengenai pemahaman matematika oleh kaum para Logicist-Formalist-Foundationlist bahwa matematika adalah ‘lengkap’ adalah benar karena mereka memang bergulat di lingkup dunia mereka, yaitu dunia matemtika yang harus disajikan agar dapat dikonsumsi khalayak. Karena human ability khalayak yang mengkonsumsi matematika  tidaklah seragam maka indikator yang adil atas lengkap atau tidaknya matematika adalah logika formal.

Disisi lain, kaum akademisi -yang memiliki kecakapan lebih dibanding khalayak pada umumnya- mampu melihat dari susut pandang lain yang lebih kritis mengenai matematika.


Dua kepentingan ini tidaklah mungkin dapat bersatu persepsi mengenai matematika sebab masih terbelenggu tendensi.  Oleh karenanya kajian tentang hal ini harus didasari metode intensif dan ekstensif. Dengan terbukanya pola pengkajian berdasar metode ini maka jelaslah pilah-pilah kapan matematika dikatakan lengkap dan kapan dikatakan tidak lengkap.

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 12: Apakah Matematika Kontradiktif? (Bagian kedua)


Oleh Marsigit


Direfleksi oleh :

Rifai  11709251010

P Mat Kelas A PPs UNY 2011



Aspek Ontologi

Anggapan logicist dan formalist bahwa Sistem atau Struktur Matematika yang dikembangkan berawal dari Anggapan atau Pra-anggapan (Assumption or Pre-assumption) adalah kebenaran yang tertutup. Paling tidak cara pandang sejauh batas yang bisa dicerna logika normatif. Jadi kebenarannya masih perlu diuji dengan pandangan yang lebih luas.

Aspek Epistimologi

Menguji konsistensi dan Ketidak-kontrakdisian Sistem Matematika berkenaan dengan Awal-Akhirnya Sistem, Sub-sistem, atau Unsur-unsur atau Elemennya

Aspek Aksiologi

Memperluas cakrawala berfikir bahwa sebuah objek akan bermakna lain apabila dimaknai oleh orang yang berbeda. Karenanya agar pemaknaan itu tidak saling bertabrakan antara satu dengan yang lain maka perlu disamakan dulu sudut pandangnya, yaitu minimal irisan kepentingan dari keduanya.

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 11: Apakah Matematika Kontradiktif ? (Bagian Kesatu)


Oleh Marsigit
(18 Maret 2011)



Direfleksi oleh :

Rifai  11709251010

P Mat Kelas A PPs UNY 2011



Aspek Ontologi

Penilaian hakiki terhadap terhadap suatu objek harus terlepas dari kacamata. Memandangnya hendaknya dengan mata telanjang, sebab kaca mata akan membatasi lingkup pandangan karena kacamata sewaktu memandang selalu membawa misi. Misi itulah yang menyebabkan perbedaan pemahaman. Jika sesuai dengan misi maka pemahaman terhadap objek itu “positif”. Sebaliknya jika misi tidak sesuai, maka pemahaman yang tertangkap adalah munculnya kontradiksi. Jadi untuk memahami apakah matematika kontradiksi atau bukan harus disepakati dahulu bahwa memandangnya dari perspeksi yang sama.



Aspek Epistimologi

Melalui adaptasi terhadap skala ketelitian memandang dan menguji konsistensi logika dan bentuk formal matematika.



Aspek Aksiologi

Membuka wacana bagi pihak-pihak berkepentingan untuk bersama-sama menyamakan cara pandang terhadap objek yang sama, yaitu matematika.

Kamis, 06 Oktober 2011

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 10: Architectonic Mathematics (2)



Oleh Marsigit
 (18 Maret 2011)

Direfleksi oleh :
Rifai (11709251010)
P Mat Kelas A Pasca Sarjana  UNY 2011

Aspek Ontologi
Hakekatnya melihat matematika pada diri siswa adalah melihat apa yang dapat dipikirkan dan apa yang mungkin dipikirkan olehnya. Hanya dia yang memiliki kewenangan dan kemampuan untuk memanifestasikan matematika. Dia mengkonstruksi bangunan matematikanya menurut kemampuan yang ia miliki. Pembatas hakekat matematika adalah seluas apa hal yang mampu ia pikirkan. Jadi hakekat matematika adalah pikiran para siswa itu sendiri

Aspek Epistimologi
Diyakini bahwa siswa memiliki kemampuan untuk memahami dan membangun konsep matematika melalui logika dan penalarannya dan membangun konsep matematika melalui penterjemahan terhadap fenomena matematika yang ia jumpai melalui kegiatan diskusi, menulis, mendengar, bertanya, praktek langsung, memproduksi, merevisi, memberi kritik atau masukkan agar diperoleh matematika yang obyektif yang secara berkesinambungan senantiasa terbarukan.

Aspek Aksiologi
Menggugah kesadaran para pemangku kebijakan di bidang pendidikan untuk bertindak arif dalam menentukan pembelajaran matematika yang alamiah bagi siswa.

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 9: School Mathematics


Oleh Marsigit
 (18 Maret 2011)

Direfleksi oleh :
Rifai (11709251010)
P Mat Kelas A Pasca Sarjana  UNY 2011

Aspek Ontologi
Hakekatnya school mathematics adalah kegiatan yang dilakukan si pebelajar dalam upaya membangun pengetahuan yang melibatkan aspek kemampuan melihat keteraturan dan hubungan, ekplorasi diri untuk menemukan solusi dari suatu masalah, penyelidikan suatu fenomena, dan mengkomunikasikan hasilnya.

Aspek Epistimologi
Si pebelajar menjalani tahap Elaborasi, eksplorasi, dan komunikasi.

Aspek Aksiologi
Dihasilkan pemahaman yang terkesan familier dan tidak kaku bagi siapa saja yang ingin mengetahui school mathematics.

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 8: Architectonic Mathematics (1)


Oleh Marsigit
 (18 Maret 2011)

Direfleksi oleh :
Rifai (11709251010)
P Mat Kelas A PPs UNY 2011

Aspek Ontologi
Usaha memperbaiki pendidikan matematika di sekolah harus selaras dengan apa yang dibutuhkan, yang mana yang dibutuhkan, dan bagaimana melakukannya. Komposisi ketiganya harus proporsional. Jadi hakekatnya harus dapat ditemukan "THE KIND OF MATHEMATICS THAT SUITABLE FOR YOUNGER LEARNER".

Aspek Epistimologi
Self transformation, yaitu  perubahan bentuk dari fenomena di lingkungan internal pendidikan, karena dari sanalah tumbuh kesadaran tentang korelasi antara pendidikan matematika dengan konteks ruang dan waktu dalam upaya menemukan kesesuaian cara pandang yang sejati. 

Aspek Aksiologi
Menghasilkan inovasi terhadap self tranformation bagi setiap individu pelaku belajar dan mengajar yang ingin melakukan perubahan pendidikan matematika, diantaranya : replacement gagasan, pembentukan teori, pembentukan konsep matematika, pembentukan metode pembelajaran matematika, pembentukan sikap matematik, dan pembentukan kompetensi matematik.

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 7: Structuralism Mathematics


Oleh Marsigit
 (18 Maret 2011)

Direfleksi oleh :
Rifai (11709251010)
P Mat Kelas A PPs UNY 2011

Aspek Ontologi
Hakikat structuralism mathematics bukan hanya sekedar pure mathematics namun lebih kepada usaha bagaimana siswa mengkonstruksi konsep dari dirinya sendiri. Sedangkan guru berperan sebagai fasilitator. Jadi sebenar-benar intuisi mathematics adalah ketika siswa mampu memproduksi secara mandiri suatu konsep yang nantinya akan menjadi bagian dari kekayaan pengetahuannya.

Aspek Epistimologi
Pembelajaran kontekstual, yaitu siswa langsung bersentuhan dengan dunia konkrit yang dapat mereka lihat, rasakan, atau bayangkan.

Aspek Aksiologi
Menghasilkan siswa yang mampu membangun/mengembangkan konsep melalui pikirannya sendiri. Jadi dalam hal ini siswa belajar mathematics juga dengan menggunakan intuisi atau gerakan hatinya.