Elegi Meratapi SAng Ilmuwan Plagiat dan guru Pemalsu PAK
Oleh : Marsigit
Direfleksi oleh :
RIFAI, P Mat A 11709251010
Eksistensi seseorang akan diketahui orang lain jika :
1. Ia benar-benar tampak dimata orang lain
2. Ada gejala yang yang dapat diamati yang menujukkan bahwa dia ada
3. Ada produk yang dihasilkan olehnya sehingga produk itu bisa dinikmati orang lain
artinya, untuk menampakkan diri di hadapan orang lain sesorang harus terlihat dulu, baik secara fisik maupun dengan bukti otentik. Dengan begitu orang lain akan menempatkan dirinya di tempat tertentu sesuai ruang yang tersedia pada dirinya. Selanjutnya penempatan itu bersifat kokoh atau tidak bergantung dari efek-efek lanjutan dari awal penampakannya.
Contoh : Seorang guru dinilai orang lain sebagai guru apabila dia memiliki ijazah keguruan, selanjutnya predikat guru itu apakah benar-benar bisa disandangnya sangat bergantung dari efek lanjutan yang ia tempilkan sebagai seorang guru. Jika ia mampu menunjukkan perilaku (normatif) sebagai guru maka akan kokohlah kedudukan ia menyandang predikat 'guru'.
Kemudian dari mana penilaian (normatif) bagi seorang guru?
Jawabannya ada 2 hal, yaitu : (1) dari gejala-gejala (dalam bentuk aktivitas) yang ia lakukan sehari-hari. Jika ia mampu berkativitas yang mencerminkan perilaku seorang guru, maka dikatakan ia benar-benar guru. (2) dari produk yang dihasilkan. Jika ia mampu menelorkan produk yang relevan dengan disiplin keguruan dan produk itu dapat dinikmati khalayak banyak, maka dikatakan ia layak menyandang predikat sebagai 'guru'.
Jadi sebenar-benar eksistensi seseorang diakui oleh orang lain jika orang itu ADA, ia MENGADAkan sesuatu yang relevan, dan ia merupakan PENGADA dari suatu produk yang bermanfaat.
Kamis, 24 November 2011
Mempertemukan Logika dan Pengalaman untuk membangun Filsafat
Mempertemukan Logika dan Pengalaman untuk membangun Filsafat
Direfleksi oleh RIFAI, P MAT Kelas A No 11709251010
Kajian filsafat mencakup hal-hal dasar yang esensial. Mengenai asal-usul ditemukannya obyek filasafat tidaklah dipermasalahkan. Semua sumber berstatus syah dan ‘legal’ dari kacamata filsafat.
Setiap manusia menjalani kehidupannya melalui proses pengamatan dan analisa. Pengamatan yang seksama dengan dibarengi analisa yang teliti akan memunculkan pengalaman hidup yang akan ia kenang sepanjang hidupnya. Analisa terhadap pengamatan dilakukan oleh individu menggunakan logika. Logika akan menuntun individu untuk melakukan penilaian terhadap apa yang ditemuinya. Jika dengan logika itu ia mendapatkan kesan, maka kesan itu akan menjadi pengalaman bagi dirinya. Dengan senantiasa mempertimbangkan hal-hal mendasar, harapannya output dari berlogika yang ia lakukan menghasilkan penilaian yang bijaksana yang memuat manfaat bagi dirinya. Dengan demikian akan ditemukan olehnya pengalaman hidup. Sebaliknya setelah pengalaman hidup berhasil diraihnya, selanjutnya pengalaman itu dapat dijadikan cermin untuk merefleksi seberapa kadar kebenaran yang diyakini itu dibanding kebenaran yang hakiki. Hal itu bisa dilakukan jika ia mampu berfilsafat.
Hubungan yang resiprocal ini menyandingkan kedudukan yang serasi antara logika dan pengalaman dalam upaya membangun filsafat.
Langganan:
Postingan (Atom)